MIMPI MENJADI NYATA

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Senin, 4 November 2024 - 22:16 WIB

20280 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TIMELINES,INEWS
Oleh: Putri Simba

Namaku Putri Rahmawati, biasa dikenal dengan nama penanya Putri Simba, pelajar SMAN 1 Simpang Rimba tingkat akhir (kelas 12 SMA) dari pelosok Selatan Pulau Bangka. Aku merupakan Novel Enthusiasm, penikmat karya tulisan, yang membuatku melebur dalam cerita. Salah satu penulis yang mampu meleburkanku dalam tulisan adalah beliau, (Gol A Gong) sang Maestro Sejuta Pena.

Ini merupakan pengalaman yang luar biasa, berangkat dari harapan yang mungkin cukup mustahil terjadi untuk anak seusiaku. Sebuah keinginan untuk bertemu dengan idola (Gol A Gong) seorang yang mampu membuatku jalan-jalan dalam imajinasinya melalui tulisan. Ia (Gol A Gong) bahkan sesekali aku sebut dalam doa seusai aku menyembah Sang Kuasa. Kira-kira begini doanya:

“Tuhan, ijinkan setidaknya sekali saja aku bersua dan bercerita dengannya. Ijinkan aku melihat dan mendengarnya dalam nyata. Tuhan, tolong … sekali saja”. Begitulah doaku ketika aku masih duduk di bangku Kelas X tingkat SMA.

Saking seringnya diriku berdoa, bahkan sampai lupa kalau kini aku sudah duduk di akhir masa sekolahku di SMA. Harapan itu tetap ada, tetapi mulai luntur karena cukup lama tidak dijawab oleh Sang Maha Kuasa. Namun, disela lunturnya harapan itu muncul jawaban yang selama ini aku tunggu.
Masih teringat kala kala itu (malam hari) aku sedang duduk di ruang tamu menatap TV dengan tangan kanan memegang smartphone (yang sesekali scroll media sosial) untuk melihat beberapa konten menarik seputaran tulisan. Tiba-tiba muncul notifikasi (chat dari seseorang) yang membuat aku sejenak terdiam tanpa kata.

“Put, bisakah kamu datang ke Pusat Kota untuk menghadiri safari Literasi bersama Gol A Gong.” Begitu tanya salah satu guru dalam organisasi kepenulisan di Selatan Bangka yang bernama bapak Tri Prasetio S.Pd

Tanganku gemetar, pikiranku kacau seakan tak percaya dengan chat yang baru kuterima. Dengan sedikit debaran jantung yang makin kencang, tangan makin bergetar, aku mencoba tetap tenang dan tegas menjawab.

“Iya pak, Putri bisa dan mau,” jawabku yang seakan masih tak percaya. Ternyata doaku telah dijawab Sang Kuasa.

Singkatnya, hari yang aku tunggu pun tiba. Aku sengaja menguras semua tabungan yang aku kumpulkan untuk bisa berangkat ke kota. Bahkan aku rela hanya menumpang di salah satu kost tempat teman yang sudah kuliah disana bernama Mila. Namun sayangnya, tabunganku hanya cukup untuk satu kali jalan saja. Untuk makan pun aku hanya bisa membeli yang sangat sederhanya. Namun, itu bukan masalah bagiku, karena yang terpenting adalah, aku bisa bertemu dengan beliau, (Gol A Gong) Sang Maestro idolaku sejak lama.

Dengan keyakinan tinggi, aku yakin Sang Kuasa memberi jalan untuk mempermudah dalam mewujudkan impian hambanya.
Kamis, 31 Oktober 2024 merupakan hari besarnya. Aku antusias mempersiapkan segalanya, bahkan aku berangkat setelah adzan subuh berkumandang. Aku diantar oleh ayahku menggunakan motor bututnya, dengan mata yang masih sedikit sulit untuk dibuka, ayahku perlahan menarik gas motornya menuju halte bis yang menuju ke kota. Aku ingin berangkat lebih awal, karena perjalanan dari rumahku menuju kota tersebut memakan waktu 2-3 jam lamanya.

Tepat saat matahari seperti malu-malu menampakkan dirinya, aku sudah sampai di halte menunggu bis menuju kota. Ayahku menemaniku hingga bis itu datang dan membawaku menuju kota. Tak butuh waktu lama, bis itupun mulai menghampiriku. Dengan keyakinan tinggi, aku memasuki bis tersebut dan sesekali melambaikan tangan ke ayahku sebagai bukti perpisahan kami.

Tak terasa, 2.5 jam bis itu melaju dan akhirnya aku sudah sampai di kota. Kala itu pukul 07 pagi, aku dijemput temanku untuk singgah dikost-nya sebentar (menaruh barang-barangku). Kami hanya mampir sebentar di kost itu, karena kami harus secepat mungkin menuju gedung untuk menghadiri pertemuan dengan Sang Maestro.
Setengah jam berlalu, tepat pukul 08.00 pagi, aku sampai di gedung megah milik kantor Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat pertama kali masuk ke ruangan itu, badanku sedikit kaget karena tidak terbiasa dengan pendingin udara.

Saat acara dimulai, aku sengaja memilih tempat duduk paling depan, dengan harapan supaya lebih dekat dengan idolaku. Rasanya tak percaya, aku bisa sedekat ini, bahkan mendengar sang maestro bercerita di depanku. Sesekali air mataku tak terasa menjatuhkan dirinya sendiri, aku tak peduli, mungkin ia memang ingin merayakan impianku yang menjadi nyata.

“Kamu tidak apa-apa, Put?” tanya peserta lain yang duduk di sebelahku.

“Tidak, aku dan air mataku sedang merayakan impian kami,” jawabku sambil mengusap air mata yang tidak punya malu tersebut.

Tidak terasa, untaian kata yang diucapkan sang Maestro (Gol A Gong) membuatku tersihir tanpa kata. Aku mamatung selama acara tersebut berlangsung, bahkan aku masih mematung saat pembawa acara memastikan acara tersebut sudah berakhir.

Rupanya keberuntunganku hari itu belum berakhir. Masih ada sesi 2 (setelah acara cerita motivasi dari sang Maestro). Aku terpilih menjadi 20 peserta yang mengikuti pelatihan menulis dari sang idola.

“Tuhan, terima kasih sudah membuatku beruntung hingga sejauh ini,” gumamku dalam hati.

Namun, Tuhan tidak berhenti membuatku beruntung hari itu. Seusai sesi kedua berlangsung, saat peserta lain sedang asyik foto bersama Gol A Gong. Aku dihampiri guru yang aku kenal dari Selatan Pulau Bangka.yang bernama bapak Tri Prasetio S.Pd

“Kamu sama siapa, Put, di sini?” Tanyanya dengan wajah yang sesekali memperhatikan Gol A Gong.

“Aku sendiri, Pak,” jawabku singkat dengan tanganku reflek mengajak guru tersebut berjabat tangan.

“Terus kamu berangkat sama siapa? Pulang nanti sama siapa?” Ia pun melirikku sambil memasang raut wajah penasaran.

“Putri berangkat sendiri, Pak, dan nanti mungkin pulang pakai bis,” jawabku singkat dan pandanganku menuju ke Gol A Gong dan menunggu momentum untuk bisa foto bersama.

Kami berbincang singkat hingga aku reflek meninggalkan beliau untuk bisa berfoto dengan Gol A Gong. Di moment tersebut aku hanya bisa berfoto selfie saja, karena malu meminta tolong peserta lain untuk memfotokan kami. Namun tiba-tiba Pak Tri Prasetio S.Pd guru yang aku kenal mengulurkan tangannya dan menawarkan diri untuk memfoto kami, (aku dan Gol A Gong)

“Mana, Bapak aja yang fotoin,” ucapnya sambil tersenyum. Aku dengan senang hati memberikan smartphone-ku dan dengan suka cita merayakan moment bersejarah itu.
Di akhir sesi foto, aku meraih tangan Gol A Gong dan memberi tahu rahasia

Baca Juga :  Kisah di Perbatasan: Serabi Lempit di Warung Gelap

“Pak, Saya Fans Bapak sejak lama,” ucapku dengan tatapan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Idolaku pun membalas ucapanku dengan senyuman khasnya, hal itu juga yang membuatku sumringah seakan tak percaya.
Pak Tri, guru yang kukenal pun mengembalikan smartphon-ku.

“Ini, Put HP-mu.” Ia mengulurkan tangannya dengan gestur mengembalikan.

Aku mengambilnya, lalu guruku berlalu dan menghampiri Gol A Gong. Sayup kudengar perbincangan mereka kala itu, tiba-tiba bapak Tri Prasetio S.Pd sang guru baik hati itu berjabat tangan denga Gol A Gong dan kembali menghampiriku.

“Put, kamu kan gak tau pulang dengan siapa. Ikut Bapak saja ke kegiatan besok,” ucapnya.

“Kegiatan apa, Pak?” tanyaku dengan penasaran.

“Iya, besok Gol A Gong ada acara di tempat kita, dan bapak yang menjemput beliau hari ini,” jelasnya kepadaku.

Moment inilah yang kembali membuatku seakan tak percaya, keberuntunganku tidak berhenti hari ini. Dengan gestur girang dan seakan tak percaya, aku dengan sigap menjawab

“Iya, Pak, Putri mau!” jawabku dengan nada yang agak tinggi.

Mungkin saking gugupnya aku waktu itu, aku lupa bahwa aku membawa banyak barang bawaan di kost temanku (baju dan alat penunjang lainnya). Karena waktunya sangat singkat kala itu, aku langsung diajak oleh guru tersebut menuju mobil yang dimaksud. Diriku gugup kala itu, dan berusaha sebisa mungkin menelpon temanku untuk mengantar barangku ke tempat acara.

Namun, tidak begitu lama waktu berlalu, ketika aku sudah berada di dalam mobil, beliau, Gol A Gong menyusul memasuki mobil kami. Moment itu menandakan bahwa mobil kami harus segera berangkat. Perasaanku campur aduk saat itu: Senang (karena bisa satu mobil bersama idolaku), Sedih (karena barangku harus aku tinggalkan).

“Sudah, tidak apa-apa Put, nanti kamu minjam baju di rekan bapak di sana,” ucap Pak Tri yang menenangkan aku.

Aku hanya bisa menganggukkan kepala saja, karena masih exited seakah tak percaya bisa sedekat itu dengan Gol A Gong.

“Terimakasih banyak, Pak, ini kado terindah bagi Putri,” ucapku berkali-kali kepada bapak guru Tri Prasetio S.Pd yang sudah mau mengajakku semobil dengan sang Maestro.

Mobil mulai dijalankan oleh Pak Sopir, di perjalanan menuju Toboali, aku terus tersenyum bangga karena bisa satu mobil dengan sang idola sambil sedikit berkata:

“Rasanya seneng banget bisa satu mobil dengan Bapak Gol A Gong,” ucapku di dalam mobil itu.

“Ini memang rezeki kamu, Put, beruntung kamu bisa satu mobil dengan beliau,” sahut pak Tri.

“Hehe, iya, Pak,” jawabku singkat.

Ditemani AC yang begitu dingin, kutoleh kanan kiri melihat indahnya pemandangan sejenak, lalu kembali mengobrol ngedumel tanpa henti hingga rem yang diinjak Pak Sopir itu berhenti di satu rumah makan sederhana, karena kebetulan juga perut ini memang sudah berbunyi keroncongan, lapar. Secara bersama dengan Bapak Gol A Gong aku menuruni mobil itu kemudian duduk anteng tersipu malu di samping sang Guru baik hati yang mengajakku.

“Kamu mau pesan apa, Put, silahkan dipesen.” tanya Pak Tri kepadaku.

“Udah, kok, Pak, aku tadi pesen gado-gado sama es jeruk saja,” jawabku kepada sang Guru yang bertanya secara lemah lembut itu.

Sambil menunggu makanan dipesen, semuanya berbincang santai, saat aku duduk di samping Pak Guru, ia mengenalkan aku kepada bapak Gol A Gong, kemudian menyuruhku untuk duduk di samping bapak Gol A Gong sang idolaku.

“Pak, ini Putri, pelajar SMAN 1 Simpang Rimba, yang dari dulu ceritanya sangat ingin sekali bertemu Bapak,” kata Pak Tri kepada sang idolaku itu.

” Iya, Pak, aku memang dari dulu sangat ingin sekali bertemu bapak dan alhamdulilah hari ini bisa dipertemukan, rasanya seneng sekali,” ucapku kepada bapak Gol A Gong di meja makan itu.

“Katanya pengen banget ketemu Pak Gol A Gong, Put, sekarang ayo duduklah di samping beliau, berbincanglah sepuasnya,” kata Pak Tri kepadaku lagi sambil tersenyum.

Aku takbisa berkata lagi, bagaimana bahagianya perasaan ini dengan penuh tatapan agak sedikit malu aku duduk di samping beliau dengan bangga dan rasa syukur, tak percaya apakah ini mimpi atau tidak. Namun, ternyata ini adalah nyata tidak halusinasi.

“Kamu kelas berapa sekarang?” tanya bapak Gol A Gong kepadaku.

“Kelas XII, Pak, aku siswa dari Smansa Simba,” jawabku singkat kepada beliau.

Di tengah-tengah percapakan, pesanan makanan pun telah datang, aku bersama sang idolaku, juga Pak Tri, menyantap hidangan dengan penuh kenikmatan yang sangat menggoda rasanya apalagi ditemani secangkir minuman es jeruk segar.

“Alhamdulillah,” gumamku dalam hati setelah usai makan gado-gado lezat buatan orang Koba.

Semuanya telah makan, kemudian dilanjutkan kembali bincang santai sekitar kurang lebih 20 menit dengan penuh tawa canda bersama,semuanya terlihat sangat bahagia termasuk aku sendiri yang begitu bahagia karena impian ini bisa terwujud menjadi kenyataan. Usai berbincang santai, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju kota Toboali.

Mobil mulai dijalankan, di perjalanan aku terus saja berbicara tanpa hentinya kepada Pak Tri, juga Bapak Gol A Gong, hingga masanya karena lelah sang idola tak bisa berbicara dengan lama karena harus istirahat mempersiapkan kembali pertemuan malam hari bersama penulis hebat Bangka Selatan.

“Diam ya, guys, Bapak lagi tidur karena kasihan beliau terlalu lelah,” kata Pak Guru asal pongok yang duduk dihadapan pak Tri itu

“Baiklah, Pak,” jawabku singkat.

Aku bersama Pak Guru terdiam tanpa suara sejenak, lalu lanjut bicara kembali secara pelan-pelan agar tidak menggangu waktu istirahat sang idola, hingga tanpa terasa kurang lebih 2 jam lebih perjalanan. Kini aku telah sampai di Toboali, lalu langsung mengantarkan Pak Gol A Gong ke penginapannya di Hotel Marina Toboali. Usai mengantarkan sang idola, aku lanjut lagi ikut Pak Sopir mengantarkan Pak Guru lepar, lanjut mengantarkan aku depan KUA Basel karena sudah ada jemputan dari sang Kakak Wartawan.

” Owh, Bapak toh ternyata, kirain siapa,” kata Kakak Wartawan muda, cantik yang bernama Julita kepada Bapak Tri

” Titip adik kami ini ya, jaga dia baik-baik, jangan sampai lecet sedikit pun,” ucap Pak Tri kepada Kakak Wartawan itu.

” Siap!” sahut Kakak Julita, wartawan yang menjemputku itu.

Pak Tri menuju rumahnya, sedangkan aku melanjutkan perjalanan dibonceng menggunakan motor cantik persis seperti orangnya yang cantik jelita saleha tentunya idaman semua orang. Ketika sampai di rumah, aku langsung bersiap mandi lalu lanjut kembali untuk kumpul bersama bincang santai di Galadox Toboali, pukul 20.00 WIB. Selesainya mandi dan bersiap kakak wartawan yang bernama Julita memperlakukan diriku bagaikan ratu yang mana disitu pula aku merasakan sosok kasih sayang seorang kakak yang selama ini begitu aku rindukan.

Baca Juga :  CERPEN : Ikrar setelah tsunami Aceh 26 Desember 2004 ( Kisah nyata )

“Nah, masyaallah cantiknya,” kata Kakak Wartawan itu yang biasa dipanggil Jo.

Diambilnya ponsel lalu dibukanya kamera dan cekrek, cekrek, aku berfoto bersama dengan kedua kakak cantik itu.

“Ayok, sekarang kita ke galadox,” kata Kakak Julita mengajak pergi.

” Siap, Kak,” jawabku singkat.

Dilangkahkan kaki bersama menuju motor lalu digasnya capcus berangkat bersama sambil menikmati udara segar malam hari ditemani pula bintang yang begitu indah, hingga tak terasa aku bersama kedua kakak wartawanku telah sampai di tempat tujuan. Aku duduk anteng sambil berfoto bersama. Namun, di sela-sela foto ada seorang ibu yang ikut duduk di depanku dan ternyata ia adalah salah satu tamu undangan penting di bincang santai malam itu.

“Owh ternyata kamu toh yang tadi makan bersama bapak Gol A Gong, ibu kira pejabat ternyata pelajar,” kata Ibu yang duduk di hadapanku yang belum aku kenali namanya.

“Iya, Bu, aku pelajar dari SMAN 1 Simpang Rimba,” sahutku singkat.

Di perbincangan satu persatu tamu undangan pengurus GPMB beserta penulis hebat telah datang, aku bersama kakak wartawanku itu menyambutnya dengan penuh senyuman kehormatan bahagia. Dan ya, kini semuanya telah kumpul nyanyian musik merdu dengan gitarnya dimainkan oleh seorang bapak muda asal Toboali, ditambah lagi satu persembahan puisi guru yang dibacakan oleh kakak Jo sang wanita cantik jelita, ia membacakan bait-bait puisi itu dengan sangat merdu penuh haru hingga pada masanya Bapak Gol A Gong sedikit memberikan saran akan puisi tersebut yang penuh pemaknaan ilmu.Usai penampilan puisi juga saran Bapak Gol A Gong lanjut memulai bincang santai, semua pegiat literasi Bangka Selatan di Bangka cave itu fokus memperhatikan bapak Gol A Gong yang lagi menjelaskan penuh keseriusan sambil ditemani secangkir kopi hitam manis. Hingga tanpa terasa rapat pun telah berjalan lancar hingga pukul setengah sebelas malam, semuanya berpamitan pulang ke tempat masing-masing, termasuk juga aku yang pulang ke penginapan di sekretariat PWI Basel bersama kedua kakakku itu. Sesampainya di penginapan, kuambil bantal lalu tidur pulas di lantai putih bersih, hingga tak terasa hari pun telah pagi aku segera bersiap untuk kegiatan selanjutnya di Perpusda Basel.

“Hmm, akhirnya sekarang siap juga,” kataku di pagi hari itu.

“Yuk, kita berangkat sekarang, Put,” ucap Kakak Jo kepadaku.

” Siap, Kak,” jawabku singkat.

Tak lupa kebiasaanku sebelum pergi aku berpamitan terlebih dahulu kepada Kakak Mika untuk meminta doa restu, barulah sehabis itu aku mulai berangkat di antar pakai motor indah milik Kakak Jo. Pagi itu, perjalanan menuju perpusda dengan pemandangan begitu indah, kuhirup dalam udara segar ini hingga pada masanya sampai sudah aku di Perpusda Basel.

“Sekarang sudah sampai Put, kalo butuh apa-apa bilang aja ya, dadah, Put,” kata Kakak Jo berpamitan kepadaku.

“Baik, Kak,” jawabku singkat.

Kulangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan Perpusda Basel yang begitu luas di dalamnya, lalu duduk di barisan paling depan karena ingin melihat sang idola kembali memaparkan memberikan ilmunya, bangku-banggu bewarna hijau telah dipenuhi para peserta dan tamu undangan dari Toboali. Tepat pukul 08.00 WIB acara telah dimulai. berbagai rangkaian acara telah berlangsung begitu meriah penuh tawa kegembiraan bersama tanpa adanya kesedihan sekalipun itu.

“Di sini, siapa yang sudah ada buku, sekarang buat yang sudah punya buku boleh maju ke depan, kita buktikan apakah benar ucapan ketua GPMB Basel ini ataukah salah,” kata Bapak Gol A Gong kepada seluruh peserta yang hadir.

Satu persatu para penulis Basel maju ke depan membawa buku karyanya termasuk aku sendiri, Putri Rahmawati, di situ aku membawa buku karya ke-3-ku yang berjudul “Seuntas Goresan Pena”. Di depan, para penulis menjelaskan buku karyanya masing-masing hingga tiba di mana giliranku sendiri menjelaskan karyaku dengan sedikit agak malu, tetapi mempunyai perasaan yang begitu bangga bisa memperkenalkan karya di depan banyak orang.

“Buku tentang apa karyamu itu?” tanya bapak Gol A Gong kepadaku.

“Seuntas Goresan Pena, Pak,” sahutku singkat gemeter memegang mick.

” Buku apa itu?” tanya Bapak Gol A Gong kepadaku.

“Kumpulan cerpen, Pak,” sahutku singkat.

“Ini buku gabungan atau sendiri.” Tanya lagi bapak Gol A Gong.

“Ini aku sendiri yang nulisnya, Pak, ini kumpulan cerpen yang aku tulis dari kelas X, XI, dan XII, Pak,” sahutku sambil menjelaskan segalanya.

Kuserahkan buku itu kepada sang idolaku lalu kembali ia berkata di hapan banyak orang,

“Ada berapa halaman ini dan kamu menulisnya pakai apa, bolehkah jelaskan cerita apa yang kamu ingat didalam buku ini?” Tanya bapak Gol A Gong kembali.

” 479 halaman, Pak yang terdiri dari 50 cerpen, Pak, ini aku tulis menggunakan handphone, karena aku tidak ada laptop dan cerita yang paling aku inget tentang awal mulai aku menulis, Pak,” jelasku sedikit singkat, lalu kembali kujelaskan lagi akan cerita menulis itu penuh detail.

“Pengen banget punya leptob?” tanya Bapak Gol A Gong kepadaku.

“Pengen banget, Pak,” sahutku penuh semangat.

Di saat Bapak Gol A Gong berkata akan laptop, semua orang terkejut sambil sedikit tertawa karena melihat tingkah aku yang begitu pemalu. Aneh, usai aku menjelaskan tentang karyaku, kuberi kembali mikrofon kepada para penulis lainya. bergantian, Mereka menjelaskan bukunya satu per satu penuh ketelitian hingga masanya selesai pengenalan buku bapak Gol A Gong kembali membagikan ilmunya akan dunia kepenulisan ada banyak sekali para penanya dari berbagai siswa dan guru hingga Bapak Gol A Gong menjelaskannya penuh detail. Tak terasa waktu begitu cepat acara pun telah selesai ditutup dengan sesi foto bersama termasuk aku yang selalu ingin terus berfoto tanpa hentinya bersama sang idola, lalu menjadikan kegiatan itu sebagai momen yang tak terlupakan untuk selamanya.

Tamat

Simpang Rimba, 3 November 2024

Facebook Comments Box

Berita Terkait

GURU SMANSA SIMBA, SAKSI PERJALANAN DUNIAKU
Menggapai Mimpi di Atas Keterbatasan
Kisah di Perbatasan: Serabi Lempit di Warung Gelap
CERPEN : Ikrar setelah tsunami Aceh 26 Desember 2004 ( Kisah nyata )
SENGKUNI: SIMBOL LICIK DAN TIPU DAYA DALAM EPOS MAHABHARATA
HMI Ajak Masyarakat Gunakan Hak Pilih dan Ciptakan Kondisi Damai di Kota Subulussalam.
Polres Tanjungbalai pastikan pengamanan kantor KPU Dalam keadaan aman dan Baik
Antisipasi barang selundupan, sat polairud polres Tanjungbalai periksa kapal tanpa nama masuk perairan tanjungbalai

Berita Terkait

Kamis, 13 Maret 2025 - 05:47 WIB

Kapolres Binjai Bersama Jajaran Berbagi Takjil kepada Pengguna Jalan

Sabtu, 1 Maret 2025 - 03:43 WIB

Polres Binjai Bagikan Sembako kepada BEM dan Masyarakat dalam Rangka Menyambut Ramadhan 1446 H

Kamis, 20 Februari 2025 - 11:07 WIB

Satres Narkoba Polres Binjai Tangkap Tiga Bandar Sabu di Binjai Barat

Sabtu, 26 Oktober 2024 - 19:45 WIB

Plt. Wali Kota Binjai Apresiasi Program Jumat Curhat’ Polda Sumut

Selasa, 22 Oktober 2024 - 20:25 WIB

Bidpropam Polda Sumut Laksanakan Gaktibplin Mendadak di Polres Binjai

Selasa, 15 Oktober 2024 - 00:16 WIB

Sat Brimob Polda Sumut Gelar Bakti Sosial “Minggu Kasih” di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Senin, 14 Oktober 2024 - 13:20 WIB

Semangat Pengayoman Membara! Persatuan Trail Adventure Kanwil Kemenkumham Sumut Taklukan Medan Ekstrem di Binjai- Langkat

Selasa, 8 Oktober 2024 - 23:59 WIB

Personel Bintara dan Tamtama Remaja Batalyon A Pelopor Sat Brimob Polda Sumut Laksanakan Latihan Dasar Menyelam di Binjai

Berita Terbaru